{"id":15701,"date":"2025-12-07T02:38:25","date_gmt":"2025-12-07T02:38:25","guid":{"rendered":"https:\/\/profngoerahhospitalbali.com\/home\/?p=15701"},"modified":"2025-12-07T02:38:25","modified_gmt":"2025-12-07T02:38:25","slug":"mengenal-rapid-sequence-intubation-teknik-intubasi-cepat-pada-kasus-kegawatdaruratan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/profngoerahhospitalbali.com\/home\/2025\/12\/07\/mengenal-rapid-sequence-intubation-teknik-intubasi-cepat-pada-kasus-kegawatdaruratan\/","title":{"rendered":"Mengenal Rapid Sequence Intubation, Teknik Intubasi Cepat Pada Kasus Kegawatdaruratan"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><em>Rapid Sequence Intubation<\/em> (RSI) merupakan teknik intubasi yang digunakan ketika kontrol saluran napas dengan cepat dibutuhkan pada pasien dengan \u201cperut yang penuh\u201d atau pasien dengan risiko tinggi aspirasi. Teknik RSI mampu meminimalisir risiko naiknya isi lambung kembali ke mulut dan saluran napas (regurgitasi) sehingga mencegah masuknya isi lambung ke dalam saluran pernapasan. Oleh karena itu, teknik ini merupakan teknik penting yang dapat digunakan pada waktu intubasi pada pasien-pasien dengan kegawatdaruratan yang membutuhkan intubasi segera namun berisiko mengalami aspirasi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Keberhasilan teknik RSI sangat bergantung pada pendekatan sistematis yang baik. Pertama, dokter akan menilai jalan napas pasien dimulai dari pengamatan luar pada leher, mulut, dan hidung pasien untuk memperkirakan apakah ada kemungkinan jalan napas yang sulit. Hal ini membantu dokter memperkirakan kebutuhan alat-alat gawat darurat selama melakukan RSI. Selanjutnya, dokter akan memposisikan pasien serta dokter akan melakukan pemberian oksigen dengan konsentrasi 100% melalui masker pada wajah pasien sebanyak 5 tarikan napas dalam atau napas normal selama 3 menit. Setelah pemberian oksigen dianggap cukup, dokter secara cepat akan memberikan pasien obat bius dan pelumpuh otot. Setelah 30 detik, otot pasien akan lumpuh sepenuhnya sehingga pasien tidak bernapas spontan dan dokter akan segera melakukan intubasi dengan memasukkan <em>blade <\/em>besi ke dalam mulut untuk membantu membuka jalan napas yang diikuti dengan pemasangan pipa napas dari mulut hingga trakea pasien sehingga jalan napas pasien dapat diamankan. Terkadang diperlukan <em>Sellick manuever <\/em>dimana dilakukan penekanan pada krikoid pada leher pasien yang berguna untuk mencegah masuknya cairan lambung ke paru-paru. Ketika pipa napas ini telah dipastikan berada pada posisi yang tepat, maka dokter akan mengambil alih pernapasan pasien menggunakan alat ventilator atau pompa manual.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Penelitian menunjukkan bahwa teknik ini sangat aman terutama digunakan pada pasien dengan kondisi \u201cperut penuh\u201d. Pasien yang dianggap mengalami kondisi \u201cperut penuh\u201d meliputi pasien hamil dengan usia kehamilan lebih dari 10 minggu, pasien dengan kelumpuhan saluran cerna, pasien dengan trauma, dan pasien dengan obat-obatan yang bekerja dengan memperlambat saluran cerna.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Penulis<\/strong>:<\/p>\n<p style=\"margin: 0cm 0cm 0.0001pt; line-height: 150%; text-align: justify;\" align=\"center\"><span lang=\"EN-ID\" style=\"font-size: 11.0pt; line-height: 150%; font-family: 'Arial',sans-serif; color: black;\">Dr. I Putu Agus Surya Panji, Sp.An, KIC<\/span><\/p>\n<p style=\"margin: 0cm 0cm 0.0001pt; line-height: 150%; text-align: justify;\" align=\"center\"><span lang=\"EN-ID\" style=\"font-size: 11.0pt; line-height: 150%; font-family: 'Arial',sans-serif; color: black;\">Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif<\/span><\/p>\n<p style=\"margin: 0cm 0cm 0.0001pt; line-height: 150%; text-align: justify;\" align=\"center\"><span lang=\"EN-ID\" style=\"font-size: 11.0pt; line-height: 150%; font-family: 'Arial',sans-serif; color: black;\">Fakultas Kedokteran Universitas Udayana \/ RSUP Sanglah<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Sumber:<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Schrader M dan Urits I. Tracheal Rapid Sequence Intubation. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. 2022.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Klucka J, Kosinova M, Zacharowski K, De Hert S, Kratochvil M, Toukalkova M, et al. Rapid Sequence Intubation: An International Survey. European Journal of Anesthesiology. 2020; 37(6):435-442.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ross W, Ellard L, dan Baitch L. Rapid Sequence Intubation. ATOTW. 2018; 331:1-8.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Rapid Sequence Intubation (RSI) merupakan teknik intubasi yang digunakan ketika kontrol saluran napas dengan cepat dibutuhkan pada pasien dengan \u201cperut yang penuh\u201d atau pasien dengan risiko tinggi aspirasi. Teknik RSI mampu meminimalisir risiko naiknya isi lambung kembali ke mulut dan saluran napas (regurgitasi) sehingga mencegah masuknya isi lambung ke dalam saluran pernapasan. Oleh karena itu, teknik ini merupakan teknik penting yang dapat digunakan pada waktu intubasi pada pasien-pasien dengan kegawatdaruratan[&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":15702,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[35],"tags":[],"class_list":["post-15701","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel-kesehatan"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/profngoerahhospitalbali.com\/home\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15701","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/profngoerahhospitalbali.com\/home\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/profngoerahhospitalbali.com\/home\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/profngoerahhospitalbali.com\/home\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/profngoerahhospitalbali.com\/home\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=15701"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/profngoerahhospitalbali.com\/home\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15701\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":15703,"href":"https:\/\/profngoerahhospitalbali.com\/home\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15701\/revisions\/15703"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/profngoerahhospitalbali.com\/home\/wp-json\/wp\/v2\/media\/15702"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/profngoerahhospitalbali.com\/home\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=15701"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/profngoerahhospitalbali.com\/home\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=15701"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/profngoerahhospitalbali.com\/home\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=15701"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}