Cedera saraf pleksus brakialis pada bayi baru lahir adalah cedera yang terjadi pada saraf pleksus brakialis berupa teregang, tertekan, atau terobek akibat adanya hambatan dalam proses melahirkan bayi. Saraf pleksus brakialis adalah kumpulan kompleks jaringan saraf yang terletak di antara leher dan bahu. Kompleks saraf ini berfungsi untuk mengontrol otot-otot bahu, lengan, tangan, jari tangan, serta indera sensibilitas pada kulit ekstremitas atas. Cedera pada saraf pleksus brakialis dapat terjadi dalam proses melahirkan apabila leher bayi teregang terlalu kuat ke satu sisi saat proses melahirkan. Regangan, tekanan, atau robekan pada saraf plekus brakialis yang terjadi dalam proses melahirkan bayi dapat menyebabkan hilangnya fungsi indera sensibilitas dan kelemahan pada otot-otot bahu, lengan, tangan, serta jari tangan bayi.

Beberapa risiko yang dapat menyebabkan terjadinya cedera saraf pleksus brakialis pada bayi baru lahir adalah: (1) proses persalinan sungsang; (2) proses persalinan yang berlangsung sangat lama; (3) ukuran kehamilan besar atau berat badan bayi berlebih > 4,5 Kg; (4) bahu bayi terlalu lebar untuk melewati jalan lahir; (5) persalinan dengan bantuan vakum atau forsep; serta (6) kehamilan kembar atau ganda.

Adapun tanda dan gejala dari bayi baru lahir yang mengalami cedera saraf pleksus brakialis adalah: (1) minimalnya gerakan dari bahu, siku, dan tangan bayi; (2) lemahnya genggaman tangan bayi; (3) mati rasa atau hilangnya indera sensibilitas pada tangan bayi; (4) munculnya posisi lengan bayi yang agak aneh, seperti lengan menekuk ke arah tubuh atau menggantung lemas.

Cedera saraf pleksus brakialis pada bayi baru lahir adalah jenis cedera saraf yang sudah umum terjadi, namun diperlukan usaha untuk menegakkan diagnosis penyakit ini. Dokter perlu memeriksa fungsi lengan yang mengalami cedera saraf pleksus brakialis untuk menilai adanya kelumpuhan, mati rasa, posisi lengan, dan kekuatan genggaman bayi. Dokter juga akan memeriksa refleks bayi (refleks Moro) dengan cara melepaskan kepala bayi ke belakang, dan muncul gerakan bayi berupa merentangkan lengan dan kakinya, dan kemudian akan menariknya kembali. Beberapa pemeriksaan penunjang juga dapat dilakukan, termasuk pemeriksaan radiologi sinar-X atau MRI untuk melihat gambaran saraf pleksus brakialis, serta  pemeriksaan fungsi konduksi saraf dan elektromyografi untuk menilai fungsi saraf dan otot.

Terdapat beberapa pilihan terapi untuk mengatasi cedera saraf pleksus brakialis pada bayi baru lahir. Sebagian besar cedera saraf pleksus brakialis yang ringan akan sembuh dengan sendirinya sambil terus dimonitor dan dievaluasi dengan ketat oleh dokter. Umumnya penyembuhan akan terjadi pada bayi dalam usia 3 – 12 bulan. Pemberian fisioterapi direkomendasikan untuk membantu memaksimalkan pemulihan fungsi lengan bayi yang cedera, menjaga sendi dan otot lengan bayi agar tetap bergerak secara normal, serta mencegah terjadinya komplikasi. Pada kasus yang berat atau bayi yang tidak kunjung membaik dalam waktu 3 – 6 bulan pasca lahir diperlukan tindakan pembedahan untuk memperbaiki kompleks saraf pleksus brakialis yang cedera. Tindakan pembedahan dapat dilakukan oleh dokter spesialis bedah saraf. Jadi, segeralah berkonsultasi kepada dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.

Penulis:

Prof. Dr. dr. Tjokorda Gde Bagus Mahadewa, M.Kes, Sp.BS(K)Spinal, FICS, FINSS

Dr. dr. Gede Febby Pratama Kusuma, S.Ked., M.Biomed.

Sub Departemen/KSM/Prodi Spesialis Bedah Saraf FK Unud/RSUP Sanglah

Referensi

 

  1. Greenberg MS. 2020. Non-entrapment peripheral neuropathies. In: Hiscock, T., Landis, S. E., Casey, M. J., Schwartz, N. & Scheihagen, T., editors. Handbook of Neurosurgery. 9th Ed. New York: Thieme. 555-557.
  2. Lin JS, Samora JB. Brachial plexus birth injuries. Orthop Clin North Am. 2022;53(2):167-177. DOI: 10.1016/j.ocl.2021.11.003
  3. Raducha JE, Cohen B, Blood T, et al. A review of brachial plexus birth palsy: Injury and rehabilitation. R I Med J. 2017;100(11):17-21. PMID: 29088569
  4. Abid A. Brachial plexus birth palsy: Management during the first year of life. Orthop Traumatol Surg Res. 2016;102(1 Suppl):S125-S132. DOI: 10.1016/j.otsr.2015.05.008