Cedera saraf penglihatan dapat menyebabkan gangguan penglihatan bahkan kebutaan. Penyebab cedera ini dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu cedera langsung dan tidak langsung. Cedera langsung adalah ketika saraf penglihatan tergores, bergeser, atau rusak akibat tulang yang pecah di sekitarnya, tusukan benda tajam, peluru, atau benda lain yang masuk dan mengenai saraf penglihatan. Cedera tidak langsung adalah ketika saraf penglihatan atau jaringan di sekitarnya mengalami penekanan, perdarahan, atau bengkak akibat benturan di tempat yang relatif jauh dari saraf penglihatan. Beberapa hal yang dapat menyebabkan cedera saraf penglihatan yakni kecelakan lalu lintas, benturan kepala akibat jatuh dari ketinggian atau tertimpa benda berat, tertusuk benda tajam, atau tembakan.
Cedera saraf penglihatan terjadi pada satu dari 1.000.000 penduduk, 0,5% – 2% dari seluruh pasien cedera kepala. Penyakit ini sangat jarang terjadi dan biasanya terjadi bersama dengan patah tulang kepala dan wajah. Sebagian besar penderita cedera saraf penglihatan adalah laki-laki dewasa muda, namun sekitar 20% terjadi pada anak-anak. Pada orang dewasa, kecelakaan lalu lintas adalah penyebab tersering cedera saraf penglihatan (49%) dan jatuh dari ketinggian adalah penyebab tersering kedua (27%). Sementara itu, pada populasi anak-anak, jatuh dari ketinggian adalah penyebab tersering (50%) dan kecelakaan lalu lintas adalah penyebab tersering kedua (40%). Pada sedikit orang, benturan ringan dapat menyebabkan cedera saraf penglihatan.
Pada pasien yang dicurigai mengalami cedera saraf penglihatan, akan dilakukan pemeriksaan awal fungsi penglihatan. Apabila ditemukan penurunan tajam penglihatan, gangguan refleks penglihatan, cedera bola mata, penurunan lapang pandang, dan gangguan penglihatan warna, maka akan dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Beberapa pemeriksaan penunjang lanjutan yang mungkin dilakukan adalah funduskopi (menggunakan kaca pembesar untuk meneropong bagian dalam bola mata), CT-scan (untuk mencari adanya patah tulang dan gumpalan darah di mata dan kepala), MRI, ultrasonografi, visual field, visual evoked potential (VEP), dll. Pemeriksaan klinis akan lebih sulit dilakukan apabila pasien mengalami penurunan kesadaran. Dalam kondisi tersebut, dokter akan mendiagnosis dengan mengeksklusi penyakit-penyakit yang lebih berbahaya dan membutuhkan tindakan segera.
Karena sebagian besar pasien dengan cedera saraf penglihatan juga memiliki cedera kepala dan otak, maka penanganan cedera kepala dan otak menjadi prioritas utama. Perjalanan penyakit cedera saraf penglihatan belum diketahui secara jelas sehingga belum ada panduan resmi untuk penanganannya. Dokter akan menangani pasien secara kasus-per-kasus. Setiap pasien akan mendapat penanganan berbeda tergantung berat ringannya kondisi. Penanganan cedera saraf penglihatan dapat berupa observasi (konservatif), pemberian obat, operasi, atau kombinasi obat dan operasi. Obat-obatan yang dapat diberikan pada pasien adalah golongan kortikosteroid dan eritropoietin. Obat kortikosteroid memiliki kemampuan neuroprotektif (melindungi saraf) karena bersifat antioksidan. Kortikosteroid juga dapat mengurangi pembengkakan di sekitar saraf sehingga saraf penglihatan tidak tertekan. Eritropoietin (EPO) adalah metode pengobatan baru, dan sejauh ini tampak cukup efektif dalam penanganan penyakit ini. Kedua metode pengobatan memiliki keamanan yang cukup baik. Operasi ditujukan untuk menghilangkan tekanan pada saraf penglihatan akibat pembengkakan, bekuan darah, dan patahan tulang. Operasi juga bisa diindikasikan apabila pasien tidak membaik setelah diberi obat-obatan atau ada kondisi lain sesuai pertimbangan dokter.
Cedera saraf tipe langsung biasanya menyebabkan gangguan penglihatan permanen (kemungkinan sembuh kecil), sementara 40-60% cedera tidak langsung bisa sembuh dengan penanganan konservatif. Kemungkinan sembuhnya menurun apabila pasien memiliki tajam penglihatan awal yang buruk, sempat mengalami hilang kesadaran, berusia di atas 40 tahun, ada patah tulang di kanal optik, tidak membaik setelah 48 jam pengobatan dengan kortikosteroid, atau ada gumpalan darah di sepanjang saraf penglihatan.
Penulis:
Prof. Dr. dr. Tjokorda Gde Bagus Mahadewa, M.Kes, Sp.BS(K)Spinal, FICS, FINSS
dr.Made Satriya Ranuwibawa
Sub Departemen/KSM/Prodi Spesialis Bedah Saraf FK Udayana/RSUP I.G.N.G Ngoerah
Referensi:
- Hathiram BT, Khattar VS, dan Rode S. Traumatic optic neuropathy. Otolaryngol Clin. 2011;3(3):188-196.
- Karimi S, Arabi A, Ansari I, dkk. A systematic literature review on traumatic optic neuropathy. J Ophthalmol. 2021:10pp.
- Steinsapir KD dan Goldberg RA. Traumatic optic neuropathy: An evolving understanding. Am J Ophthalmol. 2011;151(6):928-933.
- Yu-Wai-Man P. Traumatic optic neuropathy – Clinical features and management issues. Taiwan J Ophthalmol. 2015;5:3-8.
- Wu N, Yin ZQ, dan Wang Y. Traumatic optic neuropathy therapy: An update of clinical and experimental studies. J Int Med Res. 2008;36:883 – 889.

