Brachycephaly merupakan penyakit gangguan perkembangan tulang tengkorak anak dengan ciri pemendekan panjang kepala dari depan ke belakang dibandingkan dengan panjang dari kiri ke kanan. Brachycephaly paling sering dijumpai pada anak usia 2-3 tahun. Bentuk kepala yang tidak normal menjadi keluhan utama pasien brachycephaly dengan keluhan tambahan berupa gangguan tidur, gangguan mempertahankan postur tubuh, ketidakmampuan menutup mulut secara sempurna, dan ketidakseimbangan menekuk leher ke depan dan belakang. Komplikasi yang dapat dialami pada pasien brachycephaly dapat berupa gangguan pertumbuhan, gangguan perkembangan, dan kegagalan pertumbuhan tulang tengkorak yang dikaitkan dengan adanya peningkatan tekanan intracranial pasien. Pada crouzon syndrome, anak dengan brachycephaly dapat datang dengan gejala tambahan kelainan pada tulang wajah dan apert syndrome dimana anak dengan brachycephaly datang dengan keluhan tambahan berupa penyatuan beberapa jari-jemari tangan dan kaki.
Cephalic index dapat digunakan untuk menentukan brachycephaly yang diukur dengan cara membandingkan panjang kepala dari kanan ke kiri yang dibagi dengan panjang kepala dari depan ke belakang dan dikali dengan 100%. Apabila cephalic index berada diatas 80% maka dapat dikatakan pasien menderita brachycephaly. Meteran kain dan pemeriksaan radiologi dengan menggunakan CT scan dapat digunakan untuk menghitung cephalic index.
Pada kasus non syndromic, brachycephaly dapat disebabkan karena penurunan daya pergerakan bayi (cerebral palsy sehingga terus berbaring pada posisi sama, bayi premature, bayi dengan penyakit kronis, retardasi mental, postur bayi yang tidak normal pada tortikolis, dan kelainan di dalam kandungan seperti bayi kembar dengan kondisi ukuran tubuh yang lebih besar dari biasanya dapat membuat pergerakan leher terganggu dan menyebabkan gangguan postur di kemudian hari).
Penatalaksanaan segera dapat dilakukan dengan menggunakan helm atau pembedahan. Pembedahan dilakukan dengan tujuan membuang sutura yang lebih cepat mengalami fusi pada bayi dan dilanjutkan dengan penggunaan helm. Penggunaan helm dilakukan agar kepala bayi dapat bertumbuh dengan normal. Apabila penggunaan helm dengan durasi 3-4 bulan tidak memberikan hasil yang baik maka tindakan pembedahan lanjutan dapat dipertimbangkan. Apabila pembedahan tidak segera dilakukan, anak dapat mengalami perburukan gejala dan komplikasi brachycephaly sehingga penting bagi wali maupun orang tua anak segera membawa bayi ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat secepatnya. Penatalaksanaan yang dilakukan lebih cepat pada pasien dapat menurunkan cephalic index lebih besar dan membuat durasi penatalaksanaan lebih singkat.
Penulis:
Prof. Dr. dr. Tjokorda Gde Bagus Mahadewa, M.Kes, Sp.BS(K)Spinal, FICS, FINSS
dr. Kevin
Sub Departemen/KSM/Prodi Spesialis Bedah Saraf FK Unud/RSUP Sanglah
Referensi:
- Choi H, Lim S H, Kim J S, Hong B Y, et al. 2020. Outcome Analysis of the Effects of Helmet Therapy in Infants with Brachycephaly. J. Clin. Med. 9, 1171. 1-9 p; doi:10.3390/jcm9041171
- Likus W, Bajor G, Milka D, et al. 2014. Research Article Cephalic Index in the First Three Years of Life: Study of Children with Normal Brain Development Based on Computed Tomography. Hindawi. 1-5 p; http://dx.doi.org/10.1155/2014/502836
- Greenberg M S. 2020. Handbook of Neurosurgery. 9th Thieme. 266-70 p.
- Winn H R. 2017. Youmans & Winn Neurological Surgery. 8th Elsevier. 2924-2929 p.
- Kelly K M, Joganic E F, Beals S P. 2018. Helmet Treatment of Infants With Deformational Brachycephaly. SAGE. 1-11 p.

