Ketika seorang wisatawan melintasi beberapa zona waktu, atau meridian, pada jangka waktu yang singkat, irama sirkardian (body clock) akan terus berjalan seperti jadwal asal mula dari wilayah wisatawan tersebut. Proses reentrainment membutuhkan sejumlah waktu, yang secara umum telah disepakati sekitar 1 hari per zona waktu yang dilewati. Selama periode ini wisatawan akan mengalami apa yang disebut jet lag, atau disinkronisasi sirkardian.
Menurut UU no. 18 tahun 2014 mengenai Kesehatan Jiwa yang difokuskan untuk mengatasi stigma negatif masyarakat terhadap ODMK (Orang Dengan Masalah Kejiwaan) dan ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa), serta melakukan upaya promotive (penyembuhan) dan preventif (pencegahan) untuk mencegah terjadinya gangguan jiwa pada masyarakat hingga saat ini masih sepenuhnya dibebankan pada pemerintah. Namun konsep pariwisata dimana orang diajak untuk secara proaktif melakukan aktivitas untuk meningkatkan kesehatan jiwa dan kesejahteraan sendiri,disebut Wellness Tourism.
Turisme sebagai bagian penting dari kehidupan seharusnya difungsikan sebagai salah satu alat untuk mengobati jiwa masyarakat Indonesia, khususnya Bali yang terkenal dengan julukan pulau 1000 dewa. Harapan mampu beradaptasi dengan kondisi yang berubah sewaktu-waktu tanpa mempengaruhi perubahan mood. Menurut WHO, gangguan mental adalah satu dari tiga komplikasi kesehatan utama yang terkait dengan perjalanan udara, antara lain 1.Jantung, 2. Trauma dan kecelakaan, 3. Gangguan mental (cemas, depresi, mood)
Jet lag menyebabkan sulit tidur atau kelebihan tidur dan hal ini akan merubah mental sampai bisa terjadi marah-marah atau sedih berkepanjangan (menarik diri atau tidak mau keluar kamar hotel) serta mengganggu lingkungan sekitarnya apabila terlambat berobat
Risiko yang dihadapi wisatawan selalu berhubungan dengan daerah wisata, lama dan musim saat berwisata, tujuan berwisata, tempat tinggal, kebersihan makanan/minuman, perilaku atau
aktivitas dan kondisi kesehatannya
Risiko pada wisatawan tergantung cara wisata melalui udara atau laut, sehingga mungkin mengalami mabuk perjalanan, gangguan akibat penurunan tekanan saturasi oksigen, kelembaban udara, jet-lag, thrombosis vena, masalah aklimatisasi, heatstroke, kedinginan, terbakar matahari, kecelakaan, gigitan serangga atau binatang. Mungkin terjadi penularan penyakit melalui makanan, minuman, tanah, kontak seksual, dan paparan cairan tubuh. Disamping itu kemungkinan risiko terinfeksi beberapa penyakit infeksi yang tidak dapat dicegah dengan vaksin, antara lain infeksi dengue, HIV, amubiasis, dan filariasis bahkan mengalami perubahan mental
Hal yang perlu mendapat perhatian lebih antara lain individu dengan gangguan mental, terutama jika wisatawan belum stabil dengan obat-obatan, wisatawan dengan depresi berat berulang yang belum distabilkan pada pengobatan yang tepat dan / atau yang memiliki gejala psikotik atau risiko bunuh diri yang signifikan, dan individu dengan penyalahgunaan zat.
Dalam perjalanan wisatawan menahan diri dari menggunakan kafein atau zat psikoaktif seperti alkohol atau ganja. Wisatawan yang secara aktif mengelola dan mengendalikan gejala skizofrenia yang dideritanya dan tetap berkonsultasi dengan dokter atau praktisi kesehatan mental yang memenuhi syarat dapat melakukan perjalanan dengan aman. Konsultasi dengan profesional kesehatan mental sebelum perjalanan penting dilakukan, untuk memastikan bahwa itu adalah aktivitas yang sesuai. Perlu juga merencanakan tempat tujuan wisata misalnya ke daerah dengan tingkat stres yang rendah, mempertimbangkan perubahan zona waktu, mengambil penerbangan atau rute langsung. Selain itu perlu mengenali faktor stres dan tanda peringatan yang dapat menyebabkan episode psikotik. Bepergian dengan teman tepercaya, anggota keluarga pendamping perjalanan profesional.
Apa yang perlu dilakukan oleh kita:
- Perhatikan ekspresi emosi raut muka wisatawan saat komunikasi
- Perhatikan intonasi suara
- Perhatikan perubahan perilaku
- Tanyakan tentang riwayat penggunaan obat
- Apakah ada kesulitan tidur setelah berada di Bali
Bila dalam pertanyaan diatas, wisatawan menjawab ADA pada salah satu nomor, maka sarankan untuk berjumpa dengan psikiater di Bali. Bila masih belum mau dapat dibantu konsultasi pada media SehatPedia
Penulis:
Dr. dr. Ida Aju Kusuma Wardani, SpKJ(K), MARS
KSM Psikiatri RSUP Sanglah
Daftar Pustaka
IAMAT. IAMAT Travel and Mental Health Series. 2017. https://www.iamat.org/elibrary/download/id/1384 (accessed September 20, 2021)
Valk, Thomas. “Psychiatricissues in travel medicine: what is needed now”. Journal of Travel Medicine 2017 (1-2)

