Aneurisma adalah pelebaran abnormal dari dinding pembuluh darah arteri. Pembuluh darah yang terus melebar secara abnormal akan menyebabkan dindingnya menjadi tipis dan rawan untuk robek atau pecah dan menyebabkan darah yang berada di dalamnya keluar dan pada volume tertentu akan menyebabkan penekanan pada struktur sekitarnya dan menyebabkan berbagai gejala dan gangguan. Aneurisma biasanya tidak bergejala dan baru diketahui setelah pecah karena baru menimbulkan gejala akibat penekanan pada struktur di sekitarnya. Keparahan gejala yang timbul tergantung dari lokasi aneurisma yang pecah. Di antara berbagai tanda dan gejala, sakit kepala berat merupakan tanda peringatan paling awal dari aneurisma yang baru pecah. Aneurisma lebih sering terjadi pada wanita dan dapat idiopatik (terjadi begitu saja tanpa penyebab yang diketahui) atau akibat pembedahan, trauma, dan infeksi yang pernah terjadi sebelumnya. Insiden aneurisma dalam satu keluarga cenderung rendah, sehingga hal ini menunjukkan bahwa faktor genetik tidak memainkan peran penting dalam pembentukan aneurisma pada seseorang. Perubahan kekuatan dinding pembuluh darah arteri yang disebabkan oleh stres hemodinamik memainkan peran penting dalam pembentukan aneurisma pada orang dewasa.
Aneurisma dapat terjadi di pembuluh darah manapun termasuk di otak. Di dalam otak aneurisma biasanya timbul pada cabang arteri utama. Salah satu arteri utama dalam otak adalah arteri karotis. Aneurisma arteri karotis dapat terjadi pada bagiannya yang berada dalam sinus vena kavernosus yang disebut dengan carotid cavernous aneurysm (CCA). Carotid cavernous aneurysm merupakan kasus yang jarang terjadi dengan prevalensi yang dilaporkan bervariasi antara 0,3 hingga 1,4% dari semua aneurisma dalam ruang kepala. Carotid cavernous aneurysm ini seringkali tanpa gejala, risikonya rendah untuk menimbulkan komplikasi yang mengancam jiwa, dan biasanya dianggap sebagai kelainan yang bersifat jinak. Gejala terkait CCA lebih banyak disebabkan penekanan pada saraf-saraf di sekitarnya. Gejala yang timbul dapat berupa sakit kepala, diplopia (pandangan ganda) karena penekanan pada saraf kranialis III, IV dan VI, atau disertai miosis (mengecilnya diameter pupil mata) akibat penekanan pada saraf simpatis di mata. Gejala lainnya adalah penurunan tajam penglihatan yang disebabkan oleh penekanan pada saraf optik, peningkatan sensitifitas kornea, dan kelainan sensitifitas saraf trigeminal cabang pertama dan kedua. Selain itu, keluhan nyeri kepala satu sisi, nyeri di belakang mata, dan nyeri pada wajah cukup sering dilaporkan. Meskipun jarang terjadi dan dianggap jinak, komplikasi akibat pecahnya CCA telah dilaporkan. Komplikasi ini meliputi terbentuknya carotid cavernous fistul (CCF), perdarahan ke dalam ruang subaraknoid (selaput otak) yang menyebabkan sakit kepala hebat, kejang, penurunan kesadaran, stroke, hidrosefalus hingga kematian. Selain akibat pecahnya CCA, komplikasi dapat disebabkan oleh sumbatan akibat terbentuknya gumpalan darah di dalam sinus kavernosus atau penekanan langung pada saraf kranialis di dalam sinus kavernosus.
Penegakan diagnosa CCA merupakan hal yang cukup rumit karena sebagian besar tidak bergejala dan lokasinya yang berada di dalam otak. Penyakit ini juga tidak memiliki gejala yang khas, dan ketika CCA pecah, gejalanya menyerupai penyakit lain seperti stroke dan tumor otak. Selain itu, satu pemeriksaan penunjang biasanya tidak cukup untuk mendeteksi penyakit ini dan pemeriksaan-pemeriksaan tersebut umumnya berbiaya tinggi dan memerlukan tenaga terlatih untuk melakukannya. Pemeriksaan penunjang biasanya dilakukan bila pasien mengalami gejala akibat pecahnya aneurisma. Beberapa pemeriksaan meliputi computerized tomography scan (CT scan) kepala. CT scan biasanya merupakan tes pertama yang digunakan untuk menentukan apakah pasien mengalami pendarahan di otak. CT scan dengan penambahan zat pewarna yang disebut dengan disebut CT angiogram dapat memudahkan dokter untuk mengamati aliran darah di otak dan mungkin dapat menunjukkan adanya aneurisma. Pemeriksaan lainnya adalah pemeriksaan cairan serebrospinal (CSF). Salah satu komplikasi aneurisma yang pecah adalah perdarahan subaraknoid. Perdarahan subaraknoid dapat menyebabkan adanya sel darah merah di dalam CSF. Jika pasien menunjukkan gejala aneurisma pecah tetapi CT scan tidak menunjukkan adanya bukti perdarahan di dalam otak, tes CSF dapat membantu dokter memperkirakan adanya perdarahan subaraknoid. Pencitraan resonansi magnetik (MRI) yang menilai arteri secara rinci, disebut MR angiografi, juga dapat dilakukan untuk mendeteksi adanya aneurisma. Pemeriksaan lain yang lebih rinci yakni angiogram serebral yang juga disebut arteriogram serebral biasanya digunakan ketika tes diagnostik lainnya tidak memberikan informasi yang cukup.
Hingga saat ini tatalaksana CCA masih menimbulkan dilema yang cukup besar bagi dokter dan pasien meskipun penyakit ini dapat menimbulkan gejala yang cukup mengganggu dan komplikasi yang serius di kemudian hari. Masih belum jelas apakah pasien dengan CCA tanpa gejala harus menjalani pengobatan bahkan tatalaksana CCA yang telah menimbulkan gejala masih bersifat kontroversial. Carotid cavernous aneurysm memerlukan tindakan pembedahan segera apabila menimbulkan gejala yang bersifat progresif (memburuk dengan cepat). Pecahnya aneurisma dapat dicegah dengan pemasangan klip bedah, koil endovaskular, atau pengalih aliran darah oleh dokter spesialis bedah saraf pada aneurisma yang belum pecah. Namun, pada beberapa CCA yang belum pecah, risiko beberapa prosedur tersebut mungkin lebih besar daripada manfaatnya. Dokter spesialis saraf bekerja sama dengan dokter spesialis bedah saraf, dan dokter spesialis neuroradiologi intervensi dapat membantu pasien menentukan apakah prosedur tersebut dapat dilakukan pada aneurismanya. Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam membuat rekomendasi pengobatan meliputi: ukuran, lokasi, derajat ketidakteraturan aneurisma, tampilan aneurisma secara keseluruhan, usia dan kesehatan umum pasien, adanya riwayat keluarga dengan kasus aneurisma yang pecah, dan kondisi bawaan yang dapat meningkatkan risiko pecahnya CCA.
Pasien dengan CCA harus melakukan kontrol tekanan darah secara rutin untuk menurunkan risiko pecahnya aneurisma di kemudian hari. Semua orang berpeluang mengalami aneurisma terlebih secara umum penyakit ini tidak menimbulkan gejala, sehingga sulit dideteksi. Jika Anda memiliki tekanan darah tinggi, bicarakan hal ini dengan penyedia layanan kesehatan mengenai pengobatan antihipertensi. Makan makanan yang sehat dan olahraga dapat membantu menurunkan tekanan darah, sehingga dapat menurunkan risiko pecahnya aneurisma. Selain itu, jika Anda merokok, bicarakan dengan penyedia layanan kesehatan mengenai strategi untuk berhenti merokok karena merokok merupakan faktor risiko dalam pembentukan, pertumbuhan, dan pecahnya aneurisma.
Penulis:
(Prof. Dr. dr. Tjokorda Gede Bagus Mahadewa, M. Kes, Sp. BS (K) Spinal, FICS, FINSS)
dr.Bagus Dwiki Aryadharma
SubDepartemen/KSM/Prodi Spesialis Bedah Saraf FK Unud/RSUP Sanglah
Referensi :
Gasparotti R. Liserre R. Intracranial aneurysms. Eur Radiol (2005) 15: 441–447. DOI 10.1007/s00330-004-2614-8.
Gagliardi D, Faravelli I, Villa L, et al. Bilateral Cavernous Carotid Aneurysms: Atypical Presentation of a Rare Cause of Mass Effect. A Case Report and a Review of the Literature. Front. Neurol., 02 August 2018 Sec. Neuro-Ophthalmology. https://doi.org/10.3389/fneur.2018.00619
Menon S, Menon RG. Cavernous Carotid Aneurysms: To Do or Not To Do? J Neurosci Rural Pract. 2017 Apr-Jun;8(2):284-287. doi: 10.4103/0976-3147.203831. PMID: 28479810; PMCID: PMC5402502.
“Brain Aneurysm” in Mayo Clinic. Diakses di : https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/brain-aneurysm/diagnosis-treatment/drc-20361595
Sumber gambar : file:///E:/MEDIKO/Referat/Cavernous%20Carotid%20Aneurysms/10-1055-b-006-163742_c018_f001.webp
Sumber gambar : http://www.ajnr.org/content/25/4/611/F5

